BUKAN ANJING (24.09.2006)

Dunia masih setengah terlelap. Aura masih setengah berbayang. Masih tersirat keinginan untuk menjadi baik, namun gejolak tinta hitam masih lebih kuat menyentuh tanpa diduga. Bisakah dijelaskan mengapa tubuh dingin ini menolak jutaan molekul perhatian yang berkepanjangan? Kalo dunia saja terlihat setengah gelap, apalagi badan ini? Mati.

Memang saya ini parasit. Penghisap senyum, masih saja bisa tertawa dan berlari seperti lintah darat. Terus mengais sesuatu mengharapkan tulang belulang idaman. Jangan panggil saya anjing. Cukup parasit, dan saya tidak akan mengeluh. Apalagi marah. Jujur, mungkin mengumpat sedikit. Umpatan masih menjadi teman. Masih setia memeluk dan menemani si lintah mencari jalan keluar.

Saya bosan. Bosan mengumpat. Saya ingin berteriak dengan suara lantang. Memanggil harapan yang tak kunjung datang. Saya memanggilnya harapan, tetapi dia masih lebih suka bersembunyi dan tidak juga tampak, atau saya yang membuatnya enggan keluar?

One Response to “BUKAN ANJING (24.09.2006)”

  1. Junita Says:

    aku disini berwarna hijau tertawa membaca blogmu anehnya muka ketawa, hati menangis ahahahahahah….

Leave a Reply