Archive for October, 2006

IRONIS (25.09.2006)

Thursday, October 5th, 2006

Malam ini, dingin
terlalu menusuk persendian. Bayangan tubuh di depan kaca hampir tidak terlihat.
Tertutup genangan air mata dan luapan emosi yang berkecamuk tidak bisa
tertahankan.
Untuk
apa ditangisi? Bukankah dari awal memang sudah meminta tangis?

 
Ini bukan sebuah keinginan. Sebuah gambar keindahan
harus dicoret dari sisi baik hidup. Cinta seperti ingin meronta. Tapi saya bosan
dengan segala bentuk cinta. Tidak berguna dan menyayat nadi.

 
Rindu sudah membuat saya setengah gila. Rindu pada
kebaikan sang waktu ketika masih mau meminjamkan tawanya pada saya.
Dan ketika hari masih sudi mendatangkan bahagia sejenak. Hanya sejenak.

 
Hati seperti terhempas
dan tidak sanggup untuk berbicara. Kenyataannya, bibir ini masih bisa tertawa
menahan rasa sakit dan keinginan untuk tidak berkata tidak. Saya terdesak,
pilihan dipilih karena memang harus dipilih. Buntu. Tanpa jalan keluar.

 
Saya memohon pada malam.
Adakah ia mau meminjamkan bahagianya yang hanya sejenak itu pada malam ini.
Bukan memohon. Saya meminta.
Saya berteriak tanpa bersuara. Saya menangis tanpa mengeluarkan air mata. Saya
terjatuh, dan kali ini sakitnya tidak terbilang. Mencoba bertahan tapi tetap
tidak bisa.

 
Benci. Namun untuk apa? Sepertinya semua sudah tidak
ada rasanya.
Berkali-kali suara-suara di dalam otak mencoba membantu
berdiri. Sudah tidak bisa. Pompa jantung ini juga seperti sudah tidak berdetak.
Sekali lagi saya mencoba berteriak. Tetap tidak bisa. Ke mana suara saya?

 

BUKAN ANJING (24.09.2006)

Tuesday, October 3rd, 2006

Dunia masih setengah terlelap. Aura masih setengah berbayang. Masih tersirat keinginan untuk menjadi baik, namun gejolak tinta hitam masih lebih kuat menyentuh tanpa diduga. Bisakah dijelaskan mengapa tubuh dingin ini menolak jutaan molekul perhatian yang berkepanjangan? Kalo dunia saja terlihat setengah gelap, apalagi badan ini? Mati.

Memang saya ini parasit. Penghisap senyum, masih saja bisa tertawa dan berlari seperti lintah darat. Terus mengais sesuatu mengharapkan tulang belulang idaman. Jangan panggil saya anjing. Cukup parasit, dan saya tidak akan mengeluh. Apalagi marah. Jujur, mungkin mengumpat sedikit. Umpatan masih menjadi teman. Masih setia memeluk dan menemani si lintah mencari jalan keluar.

Saya bosan. Bosan mengumpat. Saya ingin berteriak dengan suara lantang. Memanggil harapan yang tak kunjung datang. Saya memanggilnya harapan, tetapi dia masih lebih suka bersembunyi dan tidak juga tampak, atau saya yang membuatnya enggan keluar?