Archive for September, 2006

CERITA SI INEM (22.09.2006)

Tuesday, September 26th, 2006

Ketika matahari enggan memberikan sapaan sinarnya, angan masih sempat mengawang di sela tarian waktu yang terlambat. Saya lelah, terkadang masih ingin bertanya, masihkah tersisa ruang untuk bersinar? Senja masih ingin menyapa di tengah jutaan peluh dan sisa karbohidrat yang ingin dicerca, untuk apa sebuah pengorbanan untuk tawa kosong di siang bolong?

Saya masih tidak mengerti, mengapa hidup seperti jalan rusak? Saya ingin muntah, terlalu bingung memikirkan pilihan. Saya masih perempuan, mungkin yang jalang. Toh bermuka manis manja juga tidak mudah, masih merengut dan dicaci. Dan menjadi jalang pun ternyata sama saja susah, masih tetap harus memilih dan berpikir mesti tanpa jawaban.

Dia masih terduduk di sudut jalan hati. Terkadang mungkin ingin berteriak, tapi tidak tau apakah masih ada gunanya untuk berteriak. Dia lelah, sama seperti saya. Sama merasa tidak berguna, dan sama mengepalkan tangan, menyembunyikan tangis.

Saya merindukannya, melebihi sang senja. Saya yang jalang dan bukan yang lajang. Ah, terkadang dirasa nikmat menjadi lajang, masih bisa menyapa matahari walau sendiri. Sedangkan jalang? Senja pun berpikir seribu kali untuk menoleh. Sebut saja saya hina, dan saya tidak butuh sempurna, hanya sebuah kata lengkap.

Dia masih terduduk, dan bibir hatinya masih menganga. Saya mungkin luapan hatinya, atau entah saya tidak tau. Jangan menunggu saya, karena saya tidak bisa diharapkan. Biarkan saya menoleh sebentar, masihkah waktu memberikan ibanya? Ayolah, saya hanya butuh rasa iba sedikit, tidak lebih.

Kali ini, saya yang terduduk. Jalang masih tetap saja jalang. belalang masih berbisik dan ilalang masih bergoyang. Hati ini remuk, terburai, tanpa koma, hanya titik yang panjang. Sakit.

Ketika rasa rindu sudah menjadi tabu, terkadang cinta begitu mahal direngkuh. Saya tidak mengerti cinta, dan kali ini sekalipun saya tidak mencoba mengerti. Ini konyol, terlalu konyol. Cinta seperti tertelan di permainan pikiran yang tak terbatas. Dan dia dipaksa menghilang. Terlalu angkuh untuk direngkuh, terlalu sayang untuk dibuang. Bukan, dia bukan sampah. Atau saya yang ternyata sampah?