Wednesday, June 14th, 2006
Et je vous manque,
Comme le désert manquent la pluie
Dahulu aku pernah bertanya
Di batasan mana cinta membuat jembatan mimpi
Di atas langit atau di bawah samudra?
Dahulu aku pernah bertanya
Sebesar apa titik tinta menyuguhkan luka
Kira-kira sekelam mendung atau sepudar cat tua?
Dahulu aku pun pernah bertanya
Kapan warnamu akan berubah
Apakah secerah musim semi atau mati seperti musim gugur?
Aaah,
Ternyata cinta hanya sampai di perbatasan,
Tidak ada di langit dan tidak di samudra
Ternyata luka pun tidak menyentuh sebentar,
Terlalu hitam tidak seperti mendung dan bukan cat tua
Dan ternyata warnamu tidak berubah,
Warnaku yang berubah
Kadang bersemi dan kadang mati
hari ini angin bertanya pada awan,
“apa makna hujan di tengah sahara?”
awan hanya mendesah, pergi dan menghilang jauh
angin ingin mengerti, mengapa sapaan halusnya mulai terusik irama senja
angin berhenti sejenak mencoba terdiam di tengah ilalang
sungguh, ilalang pun tak mau terganggu
ia sibuk bercinta dengan belalang
“mengapa mesti bercinta, walau rasa pun sudah tak ada?”
angin rindu pada awan,
masih ingin rasanya menari sampai rasa yang tiada terbatas
tampak awan mulai sibuk menikmati pergantian musim, pergantian warna
angin mencoba mengingat perjalanan panjangnya melintasi kota surga
“angin, coba lihat apa yang lelaki itu lakukan. tugasnya adalah menjual klise demi sebuah senyuman”
lalu..
“perempuan itu datang, lalu pergi. bukan, bukan sebuah bualan, bisakah kau tebak labirin pikiran mereka?”
“dan ini bukan surga.”
angin masih rindu pada awan
terlalu lelah rasanya mencari awan
bintang pun tidak memberikan jawaban,
“aah, tanyakan saja pada rumput yang bergoyang.”